Oleh : Indra Yusuf Pratama
Beberapa waktu lalu masyarakat Indonesia, termasuk saya, sempat digegerkan oleh pemberitaan bahwa Styrofoam berbahaya jika digunakan sebagai pembungkus makanan, terutama jika digunakan untuk membungkus makanan yang panas. Desas-desus tersebut mengatakan bahwa jika Styroafoam digunakan untuk membungkus makanan atau minuman yang panas, maka akan terjadi reaksi kimia pada Styrofoam tersebut dan dapat meracuni makanan atau minuman yang ada didalamnya. Namun benarkah demikian?
Jawaban dari pertanyaan tersebut akhirnya terjawab dalam kuliah Keamanan dan Sanitasi Pangan, Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknik Pertanian, Institut Pertanian Bogor yang saya ikuti kemarin. Kuliah tersebut memaparkan tentang bahaya-bahaya yang dapat diakibatkan oleh bahan pengemas makanan yang umumnya digunakan oleh masyarakat, termasuk Styroafoam.
Styroafoam terbuat dari Polystyrene yang dibusakan, sehingga bersifat ringan, kaku, rapuh, dan tembus cahaya. Agar Styroafoam berwarna putih, Polystyrene tersebut dicampurkan oleh karet sintetis (Butadiena). Plasticizer dan BHT (Butil Hidroksi Toluena) ditambahkan pada Styroafoam agar bersifat lentur dan awet. Namun demikian, kedua bahan ini dapat memicu kanker dan penurunan daya pikir anak. Plasticizer sendiri dapat menyebabkan kerusakan hati dan paru serta merupakan karsinogenik non-genotoksik (tidak bekerja pada level DNA). Suhu yang tinggi dapat mengakibatkan semua bahaya-bahaya tersebut dapat bereaksi dan berpindah ke makanan atau minuman yang dibungkus oleh Styroafoam.
Setelah membaca pemaparan saya tersebut apa yang Anda pikirkan? Mungkin Anda ketakutan dan bersumpah tidak akan menggunakan Styroafoam sebagai bahan untuk membungkus makanan atau minuman anda lagi. Tapi tunggu dulu! Pemaparan ini belum selesai! Memang benar Styroafoam akan sangat membahayakan jika digunakan untuk membungkus makanan atau minuman yang panas. Karena pada suhu tinggi komponen-komponen kimia yang membahayakan pada Styroafoam dapat bermigrasi pada makanan atau minuman yang dibungkusnya. Akan tetapi pada suhu tinggi berapakah bahan-bahan kimia pada Styroafoam tersebut dapat bereaksi dan bermigrasi pada makanan atau minuman yang dibungkusnya? Jawabannya ialah pada suhu 300⁰ Celcius.
Jadi… Apakah Anda masih beranggapan bahwa Styroafoam berbahaya jika digunakan sebagai bahan pembungkus makanan atau minuman? Kalaupun kita memanaskan atau memasak makanan atau minuman, suhu maksimal yang digunakan kurang lebih 100⁰ Celcius kan? Styroafoam masih aman jika digunakan sebagai bahan pembungkus, walaupun makanan atau minuman yang dibungkusnya itu panasnya hingga 100⁰ Celcius.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar