London, 24 Desember 1989
By Writer
DOR!!! DOR!!!
Terdengar suara letusan pistol memecah keheningan malam. Dua sosok manusia jatuh terhempas ke tanah. Ceceran darah menodai putihnya salju di malam itu. Sesosok manusia berdiri terpaku sambil memegang pistol. Ia mengambil bungkusan yang dipegang salah satu mayat tersebut dan kemudian lari sekencang-kencangnya. Tak lama kemudian orang-orang mulai berdatangan. Mereka ingin melihat peristiwa langka tersebut. Mereka mengamati dua sosok mayat yang tergeletak di dalam gang. Sesosok anak remaja menerobos kerumunan dan tertegun melihat kedua mayat yang tergeletak di hadapannya.
“PAPAAAAAA!!! MAMAAAAAAA!!!” Terdengar jeritan yang amat memilukan. Anak itu berlari menghampiri dua sosok mayat yang berlumuran darah. Ia mengguncang-guncang tubuh mereka.
“PAPAAAAAA!!! MAMAAAAAAA!!! BANGUN!!!” Ia terus menjerit histeris. Ia terus mengguncang-guncangkan kedua mayat itu. Namun keduanya hanya diam membisu. Seolah ikut membeku oleh dinginnya malam.
“BANGUN!!! JANGAN MATI!!! JANGAN TINGGALIN TONI MAAA… AYO BANGUN PA!!!” Orang-orang disekelilingnya hanya bisa terdiam menyaksikan pemandangan yang memilukan itu.
“Ayo bangun… Jangan tinggalin Toni… Toni masih butuh Papa dan Mama… Jangan pergi…” Anak itu merintih. Ia hanya bisa terisak dan memeluk mayat kedua orang tuanya yang membisu. Ia memeluk mereka dengan sangat erat, seakan tak ingin kehilangan mereka.
***
London, 24 Desember 1990
By Table Lamp
Malam ini salju turun, sama seperti malam-malam sebelumnya. Namun malam ini adalah malam yang sangat istimewa bagi semua orang. Keriuhan canda tawa terdengar dari jalan raya di luar sana. Sayup-sayup terdengar nyanyian lagu natal dari dalam gereja di seberang jalan.
“Sepertinya malam ini semua senang” pikirku.
Namun aku tidak merasa demikian. Aku tidak bisa merasakan kebahagiaan itu. Aku hanya bisa terduduk diam di atas sebuah meja usang yang sudah menemaniku selama bertahun-tahun di ruangan ini. Ruangan yang mereka sebut gudang. Aku dimasukkan ke ruangan ini kurang lebih lima tahun yang lalu. Manusia-manusia yang memasukkanku disini bilang mereka sudah tidak membutuhkanku. Mereka sudah mendapatkan penggantiku. Ya… Sebuah lampu belajar yang baru. Kini tubuhku semakin usang dan diselimuti debu. Aku hanya bisa menerima ini dengan pasrah hingga aku akhirnya dibuang dan dihancurkan.
Krreeekkk…
Aku tersadar dari renunganku. Aku mendengar suara langkah kaki memasuki ruangan ini. Suaranya semakin mendekat.
“Manusia… Buat apa mereka kemari?” tanyaku.
Ia berdiri di dekatku. Ia menyeka meja tempatku duduk ini. Ia menarik kursi dibawahnya dan duduk menghadapku. Aku tidak bisa melihat wajahnya di ruangan yang gelap ini. Ia meraba-raba diriku. Dan menekan sesuatu yang ada dikakiku.
Klik!
“Aku menyala lagi! Aku hidup kembali!” Aku berteriak kegirangan. Namun manusia itu tidak mungkin mendengarku. Aku hanya sebuah benda mati yang tidak dapat berbicara. Kini aku bisa melihat dengan jelas wajahnya. Wajah seorang anak remaja.
“Sepertinya ia penghuni asrama ini…” pikirku lagi.
Aku memperhatikan wajahnya. Wajah yang manis. Namun wajah itu diliputi kesedihan dan kerinduan. Sorot matanya yang sendu menguatkan ekspresi di wajahnya itu. Ia termenung sebentar, kemudian ia mengambil secarik kertas dan sebatang pensil dari dalam tas yang dibawanya. Ia mulai menulis sesuatu di atas kertas itu.
Surat untuk Tuhan
Tuhan, perkenalkan namaku Anthony. Aku adalah penghuni asrama ini. Aku tinggal disini sejak enam bulan lalu. Aku dikirim kemari karena aku sudah tak punya orang tua lagi. Orang tuaku meninggal tepat setahun yang lalu saat malam natal. Mereka meninggal karena dibunuh oleh perampok. Mereka dibunuh pada saat perjalanan pulang sehabis membeli kado natal untukku.
Air mukanya mengeras. Terlihat gurat-gurat kemarahan di wajahnya. Ia berhenti sejenak dan kembali menulis.
Tuhan maafkan aku. Kalau saja waktu itu aku tidak merengek dibelikan kado natal, mungkin saat ini mereka berdua masih hidup…
Terlihat penyesalan yang sangat mendalam dari raut wajahnya. Bola matanya berkaca-kaca.
Tuhan, aku kesepian… Kini aku merasa sendiri di dunia ini. Aku lebih suka menyendiri daripada harus bergaul dengan anak-anak lain. Aku iri melihat mereka masih memilki orang tua. Orang tua yang lengkap. Tidak seperti aku yang yatim-piatu dan sebatang kara. Aku benci mereka Tuhan!
Seperti malam ini. Mereka semua pergi tanpa mempedulikanku. Mereka bersuka cita karena mereka akan segera bertemu lagi dengan orang tua mereka. Orang tua yang menyayangi dan mencitai mereka. Aku semakin membenci mereka bila mengingatnya…
Ia berhenti menulis. Ia seperti memikirkan sesuatu di kepalanya.
Apakah masih ada yang mencintaiku di dunia ini, Tuhan? Adakah orang yang menyayangiku?
Aku tahu semua ini salahku Tuhan. Aku tahu orang tuaku mati karena aku. Aku sangat menyesalinya. Aku sangat membenci diriku. Andai saja waktu itu aku tidak memaksa mereka untuk memberikanku kado natal… Padahal mamaku sudah mengatakan bahwa ia dan papa tidak memiliki uang untuk membeli kado natal. Namun pada saat itu ego-ku sangat besar. “Aku tidak mau tahu, pokoknya aku mau kado natal!” teriakku pada mama dan papaku saat itu.
Aku masih mengingat jelas peristiwa itu. Saat-saat dimana aku sedang menunggu kedatangan kedua orangtuaku. Saat itu terdengar suara letusan pistol tak jauh dari rumahku. Seketika itu pikiranku melayang pada orang tuaku. Hatiku merasa khawatir. Aku penasaran dan pergi keluar rumah untuk melihatnya. Aku melihat ada sekerumunan orang. Aku berjalan ke dalam kerumunan orang itu. Aku menyibak kerumunan itu dan melihat papa dan mamaku terkapar disana. Tubuh mereka berlumuran darah. Ada luka tembakan tepat di jantung mereka. Aku tidak percaya apa aku lihat. Aku berlari menghampiri mereka. Aku memeluk mereka berdua dan menangis sejadi-jadinya. Saat itu rasanya seperti kiamat. Hatiku hancur. Ingin rasanya aku ikut mereka berdua pergi ke surga. Itu semua salahku Tuhan… Orangtuaku mati karena diriku…
Air mata mengalir di pipinya yang merah. Ia berhenti dan menangis tersedu-sedu. Setelah beberapa saat ia menulis kembali dengan tangan yang gemetar.
Aku tidak kuat jika harus hidup seperti ini terus Tuhan. Aku rindu kedua orangtuaku. Aku ingin bertemu mereka sekali lagi untuk yang terakhir kalinya. Aku ingin meminta maaf kepada mereka karena aku telah mencelakakan mereka. Aku sangat menyesal Tuhan. Aku sungguh menyesal…
Aku tahu permintaanku itu tidak akan bisa dikabulkan olehmu Tuhan. Aku yakin kau tidak menyayangiku karena aku anak yang jahat. Tapi aku mohon Tuhan, jika Kau bertemu papa dan mamaku di surga tolong sampaikan permintaan maafku pada mereka. Tolong sampaikan penyesalanku pada mereka. Tolong katakan aku sayang mereka berdua. Aku mencintai mereka dengan sepenuh hatiku. Tolong kabulkanlah permohonanku ini Tuhan. Aku mohon…
Ia kembali terisak. Isakan yang sangat pedih. Isakan yang sangat mengiris hati.
Tuhan… Tolong maafkanlah dosa-dosa kedua orangtuaku. Tolong jangan biarkan mereka tersentuh oleh api neraka. Biarkalah aku yang menggantikan mereka. Biarkanlah aku yang dilahap oleh api neraka karena aku memang pantas menerimanya. Akulah yang bebuat dosa…
Tolong ijinkanlah agar papa dan mamaku bisa berkumpul di surga. Tolong katakanlah pada mereka agar mereka sudi menungguku di surga sana. Tolong katakanlah pada mereka aku rindu mereka. Aku ingin berkumpul lagi bersama mereka di surga…
Ia berhenti menulis. Tubuhnya gemetar. Air matanya mengalir deras. Ia melanjutkan tulisannya dengan susah payah.
Tuhan aku sendirian... Aku ingin ada orang yang menyayangiku lagi. Aku ingin disayangi dan dicintai lagi. Aku mohon Tuhan. Aku butuh tempat untuk bersandar. Aku butuh tempat untuk berbagi…
Aku tahu aku anak yang jahat. Aku tahu aku tidak pantas meminta kepada-Mu. Aku hanya ingin kau membaca surat ini. Aku ingin kau sudi mendengarkan isi hatiku. Aku hanya berharap agar Kau mau menyampaikan pesan-pesanku kepada kedua orang tuaku. Terima kasih Tuhan jika Kau mau membaca surat ini. Terima kasih atas segala yang Kau berikan selama ini.
Salam,
Anthony William
Ia kembali membaca isi kertas itu kata demi kata. Air mata kembali mengalir di pipinya. Ia melipat kertas itu dengan sangat hati-hati dan memasukkannya ke dalam sebuah amplop putih. Kini wajahnya berubah lebih cerah. Air mukanya menggambarkan kelegaan, walaupun kerinduan masih terlihat dari sorot matanya. Senyum tipis menghiasi bibir merahnya. Ia memasukkan amplop itu ke dalam tasnya. Ia terdiam mengamatiku sejenak, dan tersenyum. Entah apa yang dipikirkannya. Ia kembali meraba kakiku dan menekan tombol diatasnya.
Klik!
Aku kembali mati. Ia pergi meninggalku. Langkah kakinya semakin lama semakin menjauh dan samar. Kini aku kembali terdiam bersama sahabatku si meja usang. Namun sekarang aku merasa senang. Setelah sekian lama, ternyata aku dapat berguna lagi. Aku dapat membantu anak itu untuk mencurahkan isi hatinya. Aku bangga pada diriku. Kini aku menikmati malam natal ini dengan sukacita. Seperti orang-orang di luar sana yang merayakan malam ini dengan penuh kegembiraan.
***
London, 25 Desember 1990
By Anthony
Pagi ini salju turun lagi. Aku mengenakan topi, sarung tangan, dan mantel saljuku. Aku menyelempangkan tasku dan memakai sepatu bot-ku. Aku berjalan keluar gerbang asrama. Salju yang cukup tebal menutupi trotoar. Aku bergegas pergi dan berusaha menghilangkan hawa dingin yang menusuk ini. Aku berjalan cepat ke arah utara. Melewati blok-blok di sepanjang jalan. Hampir satu jam aku terus berjalan. Kakiku terasa pegal, namun rasa pegal itu dikalahkan oleh kerinduanku pada mereka berdua. Aku memasuki area pemakaman. Seluruhnya berwarna putih tertutupi oleh salju yang tebal. Semua tampak sama. Namun aku dapat mengenali pusara mereka berdua. Aku berjalan menyusuri pekuburan itu. Aku terus berjalan hingga terlihat dua gundukan tanah yang saling berdampingan. Ada tanda salib diatas kedua pusara itu.
Rest In Peace
Thomas William and Julia Hoffan
Aku bersimpuh diatas kedua pusara. Aku mengenang kembali masa-masa indah bersama mereka. Aku teringat kembali peristiwa yang memilukan itu. Ada rasa hangat mengalir di pipiku. Air mataku jatuh menghempas salju dibawahnya. Aku membersihkan pusara mereka. Aku meletakkan bunga diatasnya. Bunga yang kupelihara dan kupetik dari kebun asrama. Aku tertunduk dan berdoa. Aku melepaskan kerinduanku pada mereka. Aku kembali terisak. Hatiku rindu sekali kepada mereka. Aku mendengar suara langkah kaki. Semakin lama semakin dekat. Langkah itu terhenti dihadapanku. Ia berjongkok dan aku melihat wajahnya. Matanya menatapku.
“Kakak!”
Aku terkejut melihat sosok yang berada di hadapanku. Ia adalah kakak kelasku di asrama. Kakak yang selama ini selalu memperhatikanku. Walaupun aku selalu bersikap dingin kepadanya, namun ia selalu memperhatikanku dan berusaha menjadi temanku. Kini ia tersenyum padaku. Senyuman yang sangat meneduhkan hatiku. Ia menghapus air mataku dengan kedua tangannya.
“Jangan nangis lagi ya... Kakak akan selalu ada untukmu...”
Ia merengkuhku dan memelukku. Aku merasakan suatu kehangatan di jiwaku. Kehangatan yang telah lama hilang. Kehangatan yang telah lama kurindukan. Kehangatan yang kini telah hadir kembali. Hatiku terenyuh oleh sikapnya. Dalam hatiku muncul perasaan sayang padanya.
“Tuhan... Apakah Kau telah menjawab do’a-ku? Apakah Kau telah mengirimkan dia untukku? Apakah dia yang akan menjadi malaikat pelindungku Tuhan?”
Aku terus bertanya dalam hati. Aku hanya bisa terisak di dalam pelukannya. Aku memeluknya dengan sangat erat. Aku tidak ingin melepaskannya. Aku tidak ingin kehilangan orang yang kusayangi lagi.
The End
“Jika kau merasa sendiri, percayalah kau tidak sendiri. Masih ada orang-orang yang bersamamu yang tak kamu ketahui. Orang-orang yang berjalan bersamamu. Orang-orang yang menyayangimu dan mencintaimu. Dan juga masih ada Dia yang selalu ada didekatmu”
~ Bogor, 18 Februari 2011 ~